Slide 1

Berita PUPR > Penerapan Teknologi Beton Ferosemen Untuk Jaringan Irigasi Tersier Perdesaan


Senin, 02 Juli 2018, Dilihat 338 kali

BLPT SDA

Jakarta - Hasil audit kinerja irigasi menunjukkan kerusakan yang terjadi pada saluran irigasi primer dan sekunder mencapai rata-rata 30% sedangkan pada jaringan tersier mencapai 60%. Penyebab kerusakan tersebut diantaranya karena longsoran tebing dan penumpukan sedimen. Kerusakan jaringan tersier akan berdampak pada debit distribusi air yang tidak merata, penurunan efisiensi pelayanan air dan fungsi saluran tersier. 

Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Puslitbang Sumber Daya Air mengembangkan teknologi bahan untuk saluran irigasi tersier menggunakan ferosemen berupa box tersier, saluran, lining dan skot balk sebagai salah satu terobosan dalam meningkatkan layanan dan kinerja jaringan irigasi tersier. Teknologi ini diharapkan dapat mendukung target 3 (tiga) juta Ha rehabilitasi jaringan dan 1 (satu) juta Ha pembangunan irigasi tersier baru.

Ferosemen adalah suatu tipe dinding beton bertulang tipis (3,00) cm, yang dibuat dari mortar semen hidrolis, dengan perbandingan campuran 1 semen : (2-3) pasir, diberi tulangan (≤ 6,0 mm) dengan lapisan kawat anyam (wiremesh) ukuran ≤1,0 mm, terus-menerus dan rapat. Ferosemen merupakan teknologi konstruksi alternatif yang telah digunakan dalam penyediaan suplai air dan berbagai pembangunan irigasi.

Pengembangan lining saluran dan boks tersier irigasi ferosemen pracetak merupakan inovasi teknologi rekayasa dalam meningkatkan mutu konstruksi. Saluran dan boks tersier beserta pintu pembaginya dapat meningkatkan pemerataan distribusi secara rotasi maupun proporsional.

Teknologi beton ferosemen memiliki sejumlah keunggulan yang telah teruji di lapangan, antara lain biaya konstruksi lebih rendah daripada bahan konvensional lainnya, memiliki kekuatan beton yang lebih tinggi, serta mempunyai konstruksi lebih ringan sehingga dapat digunakan di tanah yang mempunyai daya dukung yang rendah.

Badan Litbang Kementerian PUPR melalui Balai Litbang Penerapan Teknologi Sumber Daya Air telah melakukan replikasi perdana penerapan teknologi ferosemen di Kelurahan Sidomoyo, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Yogyakarta sepanjang 922 m yang dapat meningkatkan luasan area layanan sebesar 27,5 Ha atau meningkat 37,5% dari sebelumnya.

Masyarakat Sidomulyo menyambut baik teknologi pracetak saluran ferosemen karena manfaat yang dirasakan antara lain terjaminnya distribusi air, berkurangnya pengambilan air secara illegal, rendahnya kebocoran dan peningkatan luas areal tanam.

Teknologi ini telah menarik minat sejumlah pihak seperti Kabupaten Wonogiri dan Sukoharjo yang telah melakukan kunjungan dan alih teknologi untuk menerapkan saluran irigasi ferosemen pada tahun 2018 dengan Dana Alokasi Khusus (DAK). Selain itu, Dinas PU Kabupaten Semarang juga telah melakukan kunjungan lapangan ke wilayah penerapan teknologi saluran, boks tersier dan lining ferosemen sebagai studi banding dalam pembuatan peta geospasial/one map dan pembuatan ferosemen. Penerapan teknologi ini dapat mendukung percepatan target 3 (tiga) juta Ha rehabilitasi jaringan dan 1 (satu) juta Ha pembangunan irigasi tersier baru sesuai Renstra PUPR 2015-2019.

Replikasi lanjutan penerapan teknologi ini diarahkan dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah melalui pelibatan UKM dengan pembiayaan yang bersumber dari DAK, APBD, maupun dana desa. Hal ini dapat mendukung percepatan target 3 (tiga) juta Ha rehabilitasi jaringan irigasi dan 1 (satu) juta Ha pembangunan irigasi baru sesuai Renstra PUPR 2015-2019. (BLPT_SDA)