Slide 1

Berita PUPR > Penerapan Aspal Plastik Balitbang PUPR di Acara Circular Economy Forum


Jumat, 29 Juni 2018, Dilihat 261 kali

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan dan Penerapan Teknologi (Puslitbang KPT) turut berpartisipasi pada acara The 2nd Indonesia Circular Economic Forum dengan tema Redefining Waste Management: From Trash to Resources Management tanggal 28-30 Juni 2018 di Grand City Convex, Surabaya.

Permasalahan sampah merupakan isu yang genting di Indonesia. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2015 penduduk Indonesia menghasilkan 175.000 ton sampah setiap harinya, yang mencapai 64.000.000 ton per tahun. Dari jumlah tersebut, hanya 7,5% sampah yang di daur ulang, sementara 69% dari total sampah tersebut masih bergantung pada landfill. Saat ini, mencari lahan untuk TPA sangat sulit, selain harga lahan yang mahal juga sering terjadi penolakan warga setempat. Untuk itu harus diupayakan seminimal mungkin sampah sampai ke TPA. Dengan demikian, pemanfaatan sampah dan pengolahan sampah dengan metode 3R perlu digalakkan.

Berangkat dari kondisi yang memprihatinkan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim) Luhut Binsar Panjaitan bersama dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono bersinergi bersama-sama untuk mencari solusi terhadap persoalan limbah plastik tersebut melalui inovasi teknologi. Jawabannya adalah campuran beraspal menggunakan limbah plastik atau aspal campur plastik hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) PUPR. Penelitian pemanfaatan limbah plastik sudah mulai dilakukan sejak 2008 oleh Balitbang PUPR. Kemudian atas inisiatif Kemenko Maritim, penelitian ini terus dikembangkan dan diintensifkan sejak awal tahun 2017.

Kepala Puslitbang KPT mewakili Kepala Badan Litbang PUPR, Rezeki Peranginangin, dalam sambutannya menyampaikan Pengalaman Kementerian PUPR dalam memanfaatkan limbah. “Sampah plastik telah dimanfaatkan sebagai bahan bangunan atau konstruksi, diantaranya untuk paving block, plastik kayu, maupun untuk aspal plastik. Dari sampah plastik yang di daur ulang, pemanfaatan paling signifikan adalah untuk aspal plastik. Aspal plastik dapat menyerap 2-3 ton limbah plastik kresek untuk setiap 1 km jalan” terang Rezeki.

Uji gelar aspal plastik yang dilakukan tahun lalu di 6 lokasi, menunjukan kinerja aspal plastik yang masih sangat baik hingga saat ini. Tahun 2018 ini, direncanakan penerapan aspal plastik di 6 lokasi Wilayah Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

Dari sisi lingkungan sendiri, dampak penggunaan plastik campur aspal sangat minim. Penelitian menunjukan bahwa plastik mengalami deformasi dan akan mengeluarkan gas racun bila dipanaskan sampai 250 derajat, sedangkan proses di alat mesin pencacah, plastik hanya meleleh sampai 170 derajat sehingga aman.

Namun demikian, terdapat kendala dalam penerapan aspal plastik yaitu keterbatasan pasokan limbah kresek dan ketersediaan mesin pencacah plastik untuk campuran aspal plastik. Untuk mengatasi kendala keterbatasan limbah plastik, diantaranya dilakukan upaya meningkatkan harga beli plastik kresek ditingkat pemulung. Plastik kresek yang semula hanya dihargai 500 s/d 1000 rupiah per kg, dengan adanya penerapan aspal plastik, menjadi bernilai jual tinggi yaitu 3000 s/d 4000 rupiah per kg dalam kondisi cacahan bersih siap sebagai campuran aspal. Selain itu, untuk mengatasi keterbatasan ketersediaan mesin pencacah, Kementerian PUPR melalui Badan Litbang cq. Puslitbang KPT akan menyediakan mesin pencacah plastik untuk memenuhi kebutuhan penerapan teknologi aspal plastik.

Dengan adanya inovasi dari Balitbang PUPR mengenai pemanfaatan limbah plastik untuk aspal, diharapkan sampah di Indonesia dapat berkurang dan laut Indonesia terbebas dari sampah plastik. (bd)