Slide 1

Berita PUPR > Penerapan Teknologi Pemecah Gelombang Ambang Rendah (PEGAR) Berbahan Karung Geotekstil Rangka Bambu


Rabu, 04 Juli 2018, Dilihat 183 kali

BLPT SDA

Jakarta - Abrasi pantai merupakan salah satu permasalahan utama dalam upaya perlindungan pesisir pantai. Fenomena ini dapat berdampak pada tergerusnya garis pantai yang dapat mengganggu permukiman serta infrastruktur dan fasilitas-fasilitas umum. Penanganan erosi pantai telah banyak dilakukan dengan menggunakan struktur keras (hard structure), seperti: revetmen, pemecah gelombang, tembok laut, groin atau kombinasi dari jenis pelindung pantai tersebut. Struktur keras terbukti berhasil mengatasi erosi pantai berpasir atau berkarang, tetapi kurang efektif dalam mengatasi erosi pada pantai berlumpur.

Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengembangkan alternatif teknologi struktur keras untuk mencegah dampak abrasi berupa Pemecah Gelombang Ambang Rendah (PEGAR) rangka bambu. Teknologi yang dikembangkan oleh Balai Pantai, Puslitbang SDA memiliki nilai ekonomis yang lebih murah dan terjangkau masyarakat pesisir, serta secara teknis lebih efektif dalam meredam energi gelombang laut.

Struktur PEGAR ini merupakan bangunan pantai yang dipasang sejajar pantai yang berfungsi meredam gelombang sebelum sampai ke pantai. Elevasi puncak PEGAR terletak antara permukaan air rerata dan permukaan air tertinggi, karena itu hampir selalu dilimpasi gelombang (overtopping). Melalui limpasan gelombang di atas struktur PEGAR itulah seluruh sedimen baik sedimen tersuspensi maupun sedimen pasir terangkut, dan setelah gelombang pecah mengendap di belakang PEGAR dan secara perlahan mengendap di pantai di belakang PEGAR. Struktur tambahan berupa bangunan PEGAR geotekstil rangka bambu ini diharapkan mampu meloloskan butiran melalui bagian atas untuk kemudian semakin bertambah dan menambah luas daratan.

Dalam penerapan teknologi ini, Badan Litbang Kementerian PUPR melalui Balai Litbang Penerapan Teknologi Sumber Daya Air bekerja sama dengan Balai Pantai, Puslitbang SDA telah melakukan replikasi perdana Teknologi PEGAR Berbahan Karung Geotekstil Rangka Bambu di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.

Masyarakat Timbulsloko sangat antusias dalam menyambut teknologi Pemecah Gelombang Ambang Rendah (PEGAR) sebagai solusi untuk mengatasi masalah abrasi yang terjadi pada Desa Timbulsoko. Terbukti dengan peran serta aktif masyarakat Desa Timbulsloko dalam pembangunan Pemecah Gelombang Ambang Rendah (PEGAR). Teknologi ini relatif lebih mudah dikerjakan secara swadaya masyarakat, tanpa perlu menggunakan alat-alat berat, dengan total waktu pengerjaan untuk bangunan sepanjang 200 meter adalah 60 hari dengan 15 orang tenaga kerja.

Teknologi PEGAR Geobag Rangka Bambu telah memberikan sejumlah manfaat antara lain memberikan perlindungan pantai Timbulsloko dari dampak negatif abrasi berupa tergerusnya ekosistem bakau dan fasilitas publik, potensi penambahan sedimentasi melalui proses overtopping pada saat gelombang tinggi, serta memberikan perlindungan terhadap upaya reboisasi bakau.

Selanjutnya, Dinas Kelautan dan Perikanan akan berperan dalam pendampingan masyarakat terkait budidaya mangrove dan operasi pemeliharaan (OP) Pegar Geobag Rangka Bambu.

Strategi replikasi lanjutan Teknologi Pegar Geobang Rangka Bambu akan diarahkan pada pemberdayaan kelompok masyarakat dengan sumber pembiyaan berasal dari APBN, APBD, DAK serta pemanfaatan alokasi dana desa. (BLPT_SDA)