Slide 1

Berita PUPR > Mewujudkan Kemandirian Terapan Teknologi IPAL Tahu dan TPS3R Balai Litbang Penerapan PU di Kabupaten Magelang


Kamis, 02 Agustus 2018, Dilihat 119 kali

kiri atas: TPS3R Gunungpring; kanan atas dan kiri bawah: Rapat menindaklanjuti langkah program Monitoring dan Evaluasi Replikasi Perdana Teknologi Perumahan dan Permukiman; kanan bawah: IPAL Tahu Tamanagung

Pertemuan rapat pembahasan bagi peran pemangku kepentingan pengelola IPAL Industri Tahu dan TPS3R Kabupaten Magelang telah dilakukan pada hari Rabu tanggal 11 Juli 2018. Rapat ini dilakukan dalam rangka menindaklanjuti langkah program Monitoring dan Evaluasi Replikasi Perdana Teknologi Perumahan dan Permukiman yang dilakukan di Magelang serta penyusunan materi teknis dan rekomendasi kebijakan pengelolaan teknologi. Penerapan teknologi yang dievaluasi berupa teknologi IPAL Tahu di Desa Tamanagung dan teknologi TPS3R di Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Rapat dilaksanakan oleh Balai Litbang Penerapan Teknologi Permukiman di Ruang Serbaguna yang dihadiri oleh pihak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang, Kepala Desa Gunungpring, Kepala Desa Tamanagung, Ketua pengelola TPS3R, perwakilan Paguyuban Pengrajin Tahu Tamanagung, narasumber, dan praktisi. Hasil dari rapat berupa Rencana Kerja beberapa bulan kedepan untuk evaluasi pengelolaan TPS3R dan IPAL Tahu yang disepakati oleh pihak-pihak yang hadir dalam rapat.

TPS3R Gunungpring

Salah satu situs wisata di sekitar Candi Borobudur adalah kawasan wisata religi Gunung Pring yang selalu ramai di kunjungi peziarah dari berbagai luar kota. Kegiatan wisata religi di sekitar makam ini menghasilkan timbulan sampah yang besar terutama pada bulan-bulan puncak kunjungan. Balai Litbang Penerapan Teknologi Permukiman dalam menjawab permasalahan tersebut melakukan replikasi perdana meliputi pembangunan TPS3R dengan fasilitas pendukung, penyusunan dokumen, kesiapan teknologi, dan penyiapan kelembagaan pengelola. Selain itu diberikan fasilitas teknologi untuk operasional TPS seperti motor sampah untuk pengangkutan, mesin pencacah sampah dan alat pengomposan.

Kendala yang dihadapi dalam pengelolaan TPS3R dipaparkan oleh Ismiati Rini Tyassuci sebagai praktisi pendamping TPS dalam permulaan rapat. Kendala berupa sulitnya mencari tenaga pemilah untuk menyelesaikan pemilahan sampah yang terkumpu, terlebih dengan target layanan TPS yang ingin dicapai sebesar 400 pelanggan sementara baru 95 pelanggan yang bisa dilayani. Selain itu juga kendala dalam administrasi pengelolaan TPS, anggota pengelolanya yang tidak aktif, pemasukan TPS3R yang masih sedikit belum mampu memandirikan pengelolaan TPS serta legalisasi TPS sebagai Badan Usaha.

‘Yang ditunggu oleh teman-teman pengelola itu sebenarnya SK Badan Usaha sehingga untuk keperluan kedepan dalam meminta bantuan atau lainnya bisa lebih mudah karena sudah resmi dan diakui. Untuk selanjutnya kami akan tarik kembali anggota pengelola TPS agar lebih aktif lagi’ jelas Irfan, Ketua Pengelola TPS3R.

Menurut Joko Sudibyo, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang, TPS3R dapat dimasukkan sebagai unit usaha dalam program BUMDesa, terdapat beberapa skenario yang diperlukan dalam mewujudkannya. Sebelumnya perlu dilakukan koordinasi terkait manajemen dan sumber daya manusia dalam pengelolaan TPS3R dengan beberapa pihak yaitu Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang, Satgas, Pemerintah Desa dan pengelola TPS3R. Selain itu, pihak Dinas Lingkungan Hidup akan membantu dalam pembelajaran dengan beberapa TPS binaan yang sudah berhasil dalam pengelolaannya sehingga bisa menjadi contoh dalam pengelolaan TPS3R.

IPAL Tahu Tamanagung

Keberadaan replikasi teknologi IPAL Tahu di Desa Tamanagung dilakukan untuk mencegah pembuangan air limbah industri tahu langsung ke badan air seperti yang dilakukan pengrajin tahu selama ini. Pengrajin Tahu Desa Tamanagung merupakan industri rumahan dengan jumlah 17 industri serta total produksi tahu mencapai 2000-2500 kg/hari. Dari keseluruhan jumlah air bersih yang digunakan untuk pengolahan kedelai menjadi tahu dari proses awal hingga akhir sebesar 70-90 % yaitu sebesar maksimal 43,92 m3 debit air limbah yang dihasilkan. Kondisi maksimal ini biasanya terjadi saat permintaan tahu yang tinggi biasanya pada bulan Ramadhan. Limbah cair ini awalnya dialirkan melalui saluran tertutup, namun kemudian masuk ke dalam saluran terbuka dan bergabung dengan limbah rumah tangga sehingga menghasilkan bau yang busuk sepanjang saluran drainase dan mengundang protes bagi warga sekitar desa. Replikasi Teknologi IPAL Tahu yang dibangun berupa unit instalasi Bak Ekualisasi, Biodigester, Anaerobic Baffled Reactor, Biofilter, dan Kolam Sanita.

Ismiyati menjelaskan kondisi terkini IPAL Tahu secara fisik yang belum berfungsi secara optimal diduga karena terdapat kebocoran di beberapa unit instalasi dan bak kontrol. Hal ini disebabkan adanya indikasi debit air limbah yang mengalir ke IPAL melebihi kapasitas yang sudah direncanakan. 

‘Kami mengharapkan IPAL itu berfungsi sesuai yang direncanakan karena beberapa waktu yang lalu masih banyak keluhan dari warga sekitar dari bau akibat IPAL yang belum berfungsi optimal. Walaupun begitu kami berterimakasih dengan bantuan teknologi IPAL yang sudah dibangun.’ ungkap Nurrohmad salah satu pengrajin tahu Desa Tamanagung.

Joko Sudibyo mengusulkan bahwa sebaiknya IPAL dicek dari segi strukturnya bisa jadi kebocoran karena aliran air limbah yang tidak lancar dan bisa diundangkan praktisi yang sudah ahli dalam pembangunan IPAL Tahu untuk pengecekan.

Hasil rapat tersebut telah ditetapkan Rencana Kerja untuk pengelolaan TPS3R Desa Gunungpring yaitu berupa peminjaman motor pengangkut sampah, legalisasi TPS, penguatan kompetensi manajemen TPS, penguatan kompetensi teknis, pembahasan peran pemangku kepentingan TPS3R, dan serah terima aset kepada pengelola teknologi. Sementara untuk Rencana Kerja dalam pengelolaan IPAL Tahu Desa Tamanagung yaitu berupa dilakukan pengurasan dan pembersihan IPAL, pengecekan hidrolis, pengkondisian bakteri pada instalasi, sosialisasi manajemen pembuangan limbah, pengujian sampel air limbah, dan serah terima aset kepada paguyuban. Semua Rencana Kerja tersebut telah dibagi dalam pelaksanaannya dan disepakati oleh pihak-pihak yang hadir dilaksanakan sesuai waktu yang disepakati antara bulan Juli sampai selesai semua kegiatan bulan November 2018.

Kedepannya dengan langkah ini diharapkan dapat memperjelas peran pemangku kepentingan pada pengelolaan dan pemeliharaan teknologi yang diterapkan sehingga pengguna teknologi dapat mandiri mengoperasikannya dan bermanfaat bagi masyarakat. (dy-blptkim)