Slide 1

Berita PUPR > Teknologi Rumah Tahan Gempa Balitbang PUPR Sebagai Solusi Rekonstruksi dan Rehabilitasi Pasca Gempa Lombok


Rabu, 29 Agustus 2018, Dilihat 83 kali

Pelatihan Pembuatan RISHA di Kabupaten Lombok Utara

Telah terjadi beberapa rangkaian gempa bumi di wilayah Lombok, Mataram dan Wilayah Nusa Tenggara Barat secara keseluruhan. Tercatat pada   tanggal 29 Juli 2018 dengan kekuatan 6,4 SR kemudian tanggal 5 Agustus 2018 dengan kekuatan 7 SR, disusul pada tanggal 9 Agustus 2018 dengan kekuatan 6.2 SR. Gempa mengguncang kembali pada tanggal 19 Agustus 2018 pukul 11.10 WIB dengan kekuatan 6,5 SR dan pukul 21.56 WIB dengan kekuatan 7 SR. Beberapa rangkaian gempa dengan skala lebih kecil masih terjadi lebih dari 100 kali.

Dampak gempa telah menyebabkan 555 orang meninggal. Korban meninggal tersebar di Kab. Lombok Utara 466 orang, Lombok Barat 40 orang, Lombok Timur 31 orang, Lombok Tengah 2 orang, Kota Mataram 9 orang, Sumbawa Besar 5 orang, dan Sumbawa Barat 2 orang. Sementara terdapat 390.529 orang masih mengungsi akibat gempa Lombok. Pengungsi tersebar di Kabupaten Lombok Utara 134.235 orang, Lombok Barat 116.453 orang, Lombok Timur 104.060 orang, Lombok Tengah 13.887 orang, dan Kota Mataram 18.894 orang. Tak kurang dari 125.744 unit rumah, 635 unit sarana pendidikan, 99 unit sarana kesehatan, dan 147 unit gedung pemerintahan dan swasta yang rusak dengan total kerugian sementara dilansir sebesar Rp 8,8 Trilun (Sumber: BNPB). Sebagian besar korban meninggal terjadi pada saat gempa tanggal 5 Agustus 2018 akibat tertimpa bangunan yang roboh.

Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya ke Lombok paska gempa bumi, mengatakan bahwa dalam rehabilitasi dan rekonstruksi di Lombok ke depan harus menekankan konsep ‘membangun lebih baik’ dari sebelumnya. Untuk itu, beliau menekankan bahwa RISHA adalah salah satu solusi yang harus dibangun sebagai rumah tahan gempa di Lombok dan sekitarnya.

Model Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) merupakan salah satu produk teknologi unggulan Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian PUPR, berupa model struktur bangunan dengan sistem panel/modul. Keunggulan dari model RISHA, yaitu lebih cepat, lebih murah, lebih ramah lingkungan, lebih tahan gempa, movable (knock down), lebih ringan, dapat dimodifikasi untuk bangunan sekolah, puskesmas, rumah sakit, atau kantor, serta dibuat dari komponen beton sederhana, ringan, dan tidak memerlukan alat berat, serta mudah dibuat oleh kalangan umum atau UKM. Beberapa rumah contoh RISHA yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang dibangun pada tahun 2010, tidak mengalami kerusakan pada bagian strukturnya.

Sebagai tindaklanjut instruksi Presiden tersebut, Badan Litbang bersama-sama dengan Unit Organisasi lainnya di Kementerian PUPR sudah terjun untuk mendukung penanggulangan bencana pada tahap tanggap darurat dengan pemberian advis teknis berupa assessment tingkat kerusakan bangunan umum dan pemberian pelatihan serta pembangunan Rumah Instan Sehat Sederhana Tahan Gempa (RISHA) kepada masyarakat dan fasilitator. Pembangunan RISHA sebagai rumah contoh adalah bagian dari pelatihan yang diberikan Balitbang kepada fasilitator lapangan dengan pendekatan learning by doing.

Dalam rangka rekonstruksi dan rehabilitasi pasca gempa tahap pertama, saat ini telah dimulai pembangunan 20 unit RISHA dan 4 unit Rumah Unggul Sistem Panel Instan (RUSPIN), serta pelatihan membangun rumah RISHA untuk masyarakat yang melibatkan 150 fasilitator dari berbagai instansi (Kementerian PUPR, BUMN, Universitas, dan Pemerintah Daerah). Pelatihan telah dilakukan di 20 lokasi yang tersebar di 4 Kabupaten, yaitu Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Barat, dan Kabupaten Lombok Tengah.

Puslitbang Permukiman bertugas untuk melakukan advis teknis pelatihan pembangunan RISHA kepada Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi (Puslitbang KPT) pada fase pembangunan 6 unit RISHA pertama. Selanjutnya Puslitbang KPT akan menjadi fasilitator untuk memberikan advis teknis pelatihan RISHA kepada 150 orang Rekompak, mahasiswa, dan masyarakat pada 14 unit RISHA berikutnya.

Pada tahap kedua yang direncanakan pada Bulan September, akan dilanjutkan dengan pelatihan serta implementasi 75 unit rumah contoh RISHA di beberapa lokasi terdampak bencana meliputi Lombok Utara, Lombok Timur dan Lombok Barat, untuk fungsi fasilitas umum dan fasilitas sosial. Pada fase ini, Rekompak akan menjadi fasilitator pelatihan kepada masyarakat (fasilitator lapangan) yang ditargetkan akan terlatih sebanyak 1.500 orang. Dalam tahap ini Puslitbang KPT akan melakukan pendampingan teknis.

Tahap ini juga sebagai sarana pelatihan pembangunan RISHA terhadap fasilitator yang akan melakukan pendampingan masyarakat untuk pembangunan rumah secara massive di Provinsi NTB. Target konstruksi 75 unit bangunan model RISHA ini tersebar di 2 Kabupaten, yaitu Kab. Lombok Timur dan Lombok Utara dan direncanakan akan selesai dalam kurun waktu 4 (empat) bulan hingga bulan Desember 2018.

Setelah dilakukan pelatihan kepada fasilitator lapangan maka, ke depannya nanti diharapkan dengan rencana pembangunan rumah penduduk pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi dengan dana bantuan pemerintah sebesar Rp. 50 juta per keluarga, akan mendorong pembangunan rumah dengan teknologi RISHA. Penerapan teknologi RISHA juga diharapkan dapat dikerjakan oleh masyarakat melalui skema padat karya dengan bantuan pendampingan teknis dari Balitbang PUPR. Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan produk teknologi yang dihasilkan Balitbang Kementerian PUPR kepada Pemerintah Daerah dan masyarakat luas (ht).