Slide 1

Berita PUPR > Pembangunan Replikasi Perdana Teknologi Balitbang di Waterfront City Daruba Pantai


Selasa, 13 November 2018, Dilihat 43 kali

Waterfront City Morotai - Dok PusKPT

Kamis, 8 November 2018, Kepala Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi, Rezeki Peranginangin berkesempatan meninjau pekerjaan konstruksi Replikasi Perdana di Waterfront City Desa Daruba, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara. Terdapat 3 (tiga) pekerjaan konstruksi yang dikunjungi oleh Rezeki yang didampingi oleh Koordinator Teknis (M. Wahabi), Koordinator Pengawas (Budiprastiyo D), para Direksi Teknis dan Kontraktor. Adapun pembangunan fisik teknologi di Waterfront City Daruba meliputi Replikasi Perdana Teknologi Pengaman Pantai Blok Beton 3B, Teknologi Jalan Wisata, dan Teknologi Toilet Umum Wisata.

Konstruksi Replikasi Perdana di Waterfront City Morotai dimulai dari Bulan Juli 2018 dan ditargetkan selesai pada bulan Desember 2018 dengan nilai kontrak total sebesar Rp 23,5 miliar. Progress pekerjaan fisik replikasi perdana Teknologi Pengaman Pantai Blok Beton 3B sebesar 47,15 persen dengan deviasi 17,95 persen. Sedangkan progress pekerjaan fisik replikasi perdana Teknologi Jalan Wisata sebesar 42,31 persen dengan deviasi 23,03 persen. Sementara itu, progress pekerjaan fisik Teknologi Toilet Umum Wisata sebesar 56,27 persen sehingga terjadi deviasi 8,91 persen.

Progress pekerjaan fisik memang mengalami keterlambatan yang cukup besar. Hal ini disebabkan beberapa hal diantaranya yaitu kurangnya tenaga kerja terampil dan keterbatasan alat berat yang digunakan serta pengiriman material precast dari Surabaya yang harus menunggu antrian Tol Laut. Selain itu kondisi cuaca yang sudah memasuki musim penghujan dan siklus pasang surut air laut turut menghambat pelaksanaan pekerjaan.

Sebagai upaya percepatan pelaksanaan pekerjaan supaya dapat diselesaikan sesuai dengan kontrak, maka telah dilakukan rapat dengan kontraktor dan pengawas lapangan dengan beberapa kesepakatan antara lain: segera menambah jumlah tenaga kerja terampil, dari semula satu group terdiri dari 5 (lima) orang menjadi tiga group yang terdiri dari 15 orang. Selain itu juga harus dilakukan penambahan jam kerja 7 hari dalam seminggu dan dilakukan siang dan malam mengikuti siklus surutnya air laut. Penambahan alat berat seperti excavator, breaker, dan dump truck di quarry juga dilakukan untuk pengangkutan sirtu ke site konstruksi. Tertib administrasi berupa penyusunan laporan harian dari kontraktor dan harus approve oleh konsultan pengawas juga harus konsisten dilakukan.

Untuk memastikan kesepakatan rapat dapat dilaksanakan segera oleh kontraktor, maka kedepannya direksi teknis didukung Kasatker, PPK maupun Bidang Progrev secara periodik memantau dan melakukan pendampingan di lapangan. (tjg)