Slide 1

Berita PUPR > Sentuhan Entrepreneurship dalam Penerapan Teknologi Balitbang


Rabu, 14 November 2018, Dilihat 135 kali

Forum Bisnis 2018 - Dok PusKPT

Inovasi, khususnya di bidang infrastruktur menjadi hal yang tidak bisa terbantahkan lagi. Kecepatan menjadi kewajiban di zaman seperti sekarang dan tentunya membutuhkan teknologi yang mutakhir, tidak bisa lagi menggunakan teknologi konvensional yang mungkin sudah ketinggalan zaman.

Penting bagi negeri ini untuk membangun kemandirian teknologi dengan sadar akan pentingnya penggunakan teknologi dalam negeri khususnya teknologi bidang PUPR. Balitbang PUPR sudah memiliki sekitar 300 teknologi secara total di bidang sumber daya air, jalan jembatan, maupun perumahan permukiman yang tersebar di tiga pusat litbang Balitbang PUPR. Untuk itu itu, dibutuhkan sinergi antara produsen, aplikator, unit organisasi Kementerian PUPR, maupun Pemerintah daerah agar bisa mulus roda bisnis penerapan teknologi yang dicanangkan.

Dengan semangat untuk mempertemukan para inventor di pusat-pusat litbang dengan aplikator teknologi, Puslitbang KPT menghelat acara Forum Bisnis Produk Litbang PUPR di Hotel Cosmo Amaroossa Jakarta (14/11). Selain para peneliti dan aplikator, dalam acara tersebut turut hadir perwakilan dari unit organisasi teknis di lingkungan Kementerian PUPR serta berbagai asosiasi yang bergerak pada bidang konstruksi.

Forum Bisnis 2018 dibuka langsung oleh Kepala Puslitbang KPT, Rezeki Peranginangin. Saat membuka acara, Rezeki menggarisbawahi bahwa sebagai penghasil teknologi kita juga harus memiliki jiwa entrepreneurship yang kuat. Harapannya, kita dengan kemampuan kewirausahaan yang tinggi, kita mampu menjembatani ilmu pengertahuann yang kita miliki dengan dengan kemampuan mendeteksi kebutuhan pasar agar teknologi yang kita miliki bisa benar-benar terpakai dan terindustrialisasikan.

“Pada kesempatan ini Puslitbang KPT mengundang teman-teman aplikator agar bertemu dengan inventor dari teknologi kami di Balitbang PUPR. Selain itu, kami juga berharap dukungan dari rekan-rekan Ditjen teknis PUPR agar bisa menciptakan pasar bagi teknologi-teknologi Balitbang PUPR dengan menyertakan kewajiban menggunakan teknologi Balitbang di dalam dokumen teknis saat pelelangan.”

“Dari sisi seorang peneliti pun tentu akan sangat kecewa apabila hasil penemuannya hanya berakhir pada rak buku semata berupa laporan kegiatan. Tentu dengan membina jiwa entrepreneurship tadi, diharapkan peneliti bisa terus memiliki semangat untuk menciptakan inovasi yang benar-benar termanfaatkan di masyarakat,” ujar Rezeki.

Dalam kesempatan itu Rezeki juga bercerita pengalamannya perihal industrialisasi Risha di Lombok yang belum berjalan dengan sempurna, salah satunya karena jumlah aplikator teknologi yang belum memadai.

“Pada saat fase rekonstruksi pasca bencana gempa bumi di Lombok, Risha diharapkan mampu dibangun secara massal sebagai pengganti rumah yang rusak. Diharapkan bisa terbangun 36 ribu unit Risha, namun keinginan tersebut terkendala karena aplikator Risha di Indonesia baru berjumlah 11 aplikator. Kapasitas produksinya pun hanya mampu 15 unit sehari.  Padahal harapan kami, apabila panel Risha telah masuk fase industrialiasi, kita bisa membeli panel Risha seperti membeli batako di toko bangunan aja, lalu dibawa pulang dan dipasang sendiri,” tandas Rezeki.

Dalam acara Forum Bisnis 2018, terdapat tiga teknologi yang dipamerkan untuk ditawarkan kepada aplikator yang hadir, yakni Teknologi Jaringan Irigasi berbahan Ferosemen, Teknologi Warm Mix Ashpalt, dan Teknologi Rumah Susun Modular.

Kebutuhan pembangunan jaringan irigasi baru hingga 1 juta hektar yang dicanangkan pemerintah tentu membutuhkan inovasi. Salah satunya inovasi dalam pembangunan irigasi tersier yang langsung menuju pada lahan persawahan milik para petani. Untuk itu, teknologi Irigasi modular berbahan ferosemen milik Puslitbang Sumber Daya Air dirasa cocok untuk diterapkan demi pencapaian target tersebut.

Selain teknologi di atas, Puslitbang Jalan dan Jembatan juga menawarkan teknologi Warm Mix Asphalt yang sangat tepat untuk diterapkan di remote area. Hal ini dikarenakan teknologi Warm Mix Asphalt memilki temperatur pencampuran dan pemadatan 30 derajat Celcius lebih rendah dari Hot Mix asphalt. Selain itu, penggunaan bahan bakar juga lebih hemat dibanding Hot Mix Asphalt sehingga mampu mereduksi polusi selama proses pencampuran di AMP.

Yang terakhir, teknologi Rumah Susun Modular milik Puslitbang Perumahan dan Permukiman juga memberikan solusi atas permasalahan backlog perumahan yang disinyalir mencapai 7,6 juta, padahal kemampuan pembangunan rumah hanya mampu sampai 800.000 unit saja per tahun.

Setelah acara Forum Bisnis 2018 ini, diharapkan dari pihak aplikator dan inventor bisa saling menjajaki kerja sama diantara mereka. Puslitbang KPT akan mengawal jalinan kerja sama tersebut mulai dari fase penyusunan Perjanjian Kerja Sama lalu dilanjutkan fase produksi skala workshop dan akhirnya bisa masuk pada fase industrialisasi. (gal)