Slide 1

Berita PUPR > Clearing House Technology Aspal Karet Reactive & Actived Rubber (RAR) dari PT. Preservasi Jalan Indonesia


Kamis, 06 Desember 2018, Dilihat 10 kali

Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi

Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi mengadakan Clearing House Technology, sesuai arahan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, terkait teknologi infrastruktur baru di Indonesia yang akan di terapkan di Indonesia harus melewati tahapan proses clearing house technology sebelum bisa diterapkan pada infrastruktur ke PU-an di Indonesia. PT. Preservasi Jalan Indonesia mengenalkan teknologinya di bidang jalan dengan nama teknologi Aspal karet Reactive and Aktivated Rubber (RAR). Clearing House Technology yang di pimpin langsung oleh Bapak Rezeki Pranginangin, Kepala Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi dengan di moderatori oleh Bapak Novri Haryandi, Kepala Bidang Sumber Daya Kelitbangan, dengan di hadiri tamu undangan yang ahli dengan bidang teknologi yang akan di tunjukan PT. Preservasi Jalan Indonesia pada hari Selasa, 4 Desember di Puslitbang Jalan dan Jembatan.

 Pada kesempatan ini PT. Preservasi Jalan Indonesia  mengenalkan teknologinya yang bernama Aspal Karet Reactive & Actived Rubber (RAR), paparan yang disampaikan oleh Jorge B. Sausan yang adalah Profesor asal Amerika yang sudah ahli dengan bidang perkerasan jalan menyampaikan tentang informasi dan keunggulan dari teknologi Aspal Karet Reactive & Actived Rubber (RAR).

Dia menjelaskan, jika di Indonesia karet sebagai bahan baku ban bekas baru dilakukan uji coba, maka secara komersial di Amerika Serikat telah digunakan sejak lama dengan nama RAR atau Reacted and Activated Rubber. "Namun di sana tidak menggunakan karet mentah," katanya. Dari hasil uji coba yang sudah dilakukan, Jorge B. Sausan menjelaskan, jalan yang menggunakan campuran karet dari bahan baku ban bekas yang sudah diterapkan di Jalan Pantura dan Tol Jakarta Merak sampai saat ini kondisinya masih mulus. Padahal jalan tersebut dilintasi kendaraan dengan beban overload masih bisa bertahan walau sudah satu tahun.

Berdasarkan riset yang kami lakukan, ditekahui kualitas jalan menjadi lebih baik sekitar 50 hingga 100 persen dibandingkan dengan jalan yang menggunakan aspal tanpa campuran karet. Perbedaan hanya pada biaya pembuatan jalannya karena ada peningkatan 20 persen jika dibandingkan dengan jalan yang menggunakan aspal tanpa karet. "Tapi jika dihitung-hitung tetap lebih menguntungkan karena usia jalan bisa bertahan lebih lama, dari empat tahun bisa menjadi delapan tahun," ujar Direktur PT. Preservasi Jalan Indonesia.

Pada acara clearing house technologi ini, Kepala Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi memberikan apresiasi kepada PT. Preservasi Jalan Indonesia yang telah mengenalkan teknologi bagus mereka secara baik, Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi adalah pintu masuk sekaligus pintu keluar dari proses clearing house technologi di Kementerian PUPR yang akhir dari proses ini Balitbang dapat mengeluarkan surat keterangan dari hasil ini. Penutup yang disampaikan Kebala Bidang Sumber Daya Kelitbangan, apabila implementasi pembangunan dan perbaikan jalan di Indonesia menggunakan bahan karet, “maka ini akan membantu para petani karet dan membantu bumi dari pencemaran lingkungan akiban ban bekas yang tidak bisa terurai dengan cepat," katanya. (ANF)