Slide 1

Berita PUPR > Puslitbang KPT Dukung Infrastruktur Sumatera Utara dengan Inovasi Balitbang


Jumat, 25 Januari 2019, Dilihat 34 kali

Tim Puslitbang KPT

Sektor jalan merupakan salah satu unsur penting dalam pembangunan negeri ini. Konektivitas menjadi prioritas agar setiap daerah di negeri ini bisa tersambung. Distribusi barang yang mulus, hingga mobilitas penduduk menjadi harapan utama yang dituju dari kemantapan konektivitas ini. Pentingnya untuk menyambungkan satu daerah ke daerah yang lainnya juga menuntut kita untuk bisa menyelesaikan pembangunan jalan dengan cara-cara yang inovatif.

Puslitbang KPT, sebagai salah satu unit di Balitbang Kementerian PUPR, memiliki peran untuk menerapkan teknologi hasil litbang PUPR, termasuk inovasi di bidang jalan. Terkait dengan tugas tersebut, Puslitbang KPT melakukan kerja sama dengan Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Provinsi Sumatera Utara. Kerja sama tersebut melingkupi penerapan teknologi bidang jalan dan jembatan di jalan provinsi pada ruas Tongging-Silalahi, yang terletak di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.

Adapun penerapan teknologi bidang jalan dan jembatan yang akan diterapkan untuk penanganan jalan di tikungan-tikungan tajam, antara lain: Timbunan Ringan dengan mortar busa, Timbunan biasa, Tembok atau dinding penahan tebing, Hydroseeding, serta Warm Mixing Asphalt (WMA). Namun pada perkembangan ke depan, tidak menutup kemungkinan teknologi lainnya juga akan diterapkan di sana. Selain penerapan, Puslitbang KPT juga akan membentuk tim pendampingan kelembagaan pengelola untuk keberlanjutan teknologi bidang jalan dan jembatan beserta sarana pendukungnya yang sudah di bangun.

Acara penandatangan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara dilakukan oleh Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Provinsi Sumatera Utara, Abdul Haris Lubis dan Kepala Balai Litbang Penerapan Teknologi Jalan Jembatan, Satrio Sang Raksono, yang mewakili Kepala Puslitbang KPT, Rezeki Peranginangin, yang berhalangan hadir pada kesempatan tersebut.

Setelah penandatangan PKS, Tim Peneliti Puslitbang KPT juga menyampaikan masterpiece teknologi bidang jalan jembatan yang dimiliki oleh Puslitbang Jalan dan Jembatan (Pusjatan). Harapannya, selain lima teknologi yang ditawarkan di atas, rekan-rekan dari Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi tertarik untuk memanfaatkan teknologi Pusjatan lainnya. Selain itu, tim juga melakukan pengenalan mengenai salah satu inovasi pembangunan infrastruktur yakni BIM. Mengaitkan BIM dengan sektor jalan juga bukan hal yang asing. Pembangunan tol Manado-Bitung yang akan rampung pada tahun 2019 ini memanfaatkan BIM pada beberapa ruasnya. Bergeser sedikit dari jalan, namun masih berkaitan dengan sektor Bina Marga, pembangunan jembatan Teluk Kendari pun telah mengimplementasikan BIM pada fase-fase pembangunannya.

Paparan tentang BIM ini dibawakan oleh Kepala Sub Bidang Penyiapan Kajian Kebijakan, Adji Krisbandono. Pada paparannya, Adji mengungkapkan bahwa kita tengah masuk ke era disruptive technology. Medio April 2018, Presiden Jokowi meluncurkan Roadmap Revolusi Industri Indonesia 4.0. Inisiatif tersebut muncul sebagai respon atas tren masa kini yang menitikberatkan pada pemanfaatan teknologi dan kolaborasi data dalam proses industri yang lebih efisien dan menghasilkan produk yang lebih berkualitas.

Berbicara tentang BIM dan segala fiturnya, diharapkan mampu mendukung perkembangan Indonesia 4.0 tersebut. Momen ini merupakah saat yang tepat untuk menerapkan BIM pada pengembangan infrastruktur. Hal tersebut berarti mau tidak mau ke depannya kita akan sangat akrab dengan hal-hal yang sifatnya digital dan penuh otomasi di berbagai sektor infrastruktur.

“Begitu juga dengan pembangunan infrastruktur. Kita perlu untuk meningkatkan awareness kita terkait perkembangan teknologi untuk mendukung pembangunan. Salah satu perkembangan yang patut kita perhatikan tentunya adalah BIM ini. Pada intinya BIM memudahkan kita dalam semua lini pembangunan infrastruktur, mulai dari fase perencanaan hingga ke fase konstruksi selesai seperti misalnya fase facility management sebuah infrastruktur. Selain itu, efisiensi proyek juga menjadi keunggulan yang ditawarkan oleh BIM. Tingkat waste material sebuah pekerjaan pembangunan bisa ditekan sedemikian mungkin. Kemungkinan rework proyek juga bisa diminimalkan sedemikian rupa.”

“Kami dari Kementerian PUPR siap mendukung dari segi regulasi. Selain juga memahirkan aparatur kami sendiri, kami juga akan mencoba menciptakan situasi industry BIM yang sehat dan bersaing. Salah satu yang kami akan lakukan adalah mengeluarkan aturan mengenai pemanfaatan IT dalam proses konstruksi, baik itu dalam delivery maupun approval. Proses lelang, perizinan, dll. harus dilakukan secara online. Kemudian, kami akan menyediakan platform digital yang bisa diakses baik itu oleh owner maupun kontraktor. Kapasitas dan keamanan akan menjadi kunci keberhasilan digital platform ini. Selanjutnya, kami juga akan memasukkan komponen BIM yang telah distandardisasi ke dalam katalog konstruksi. Hal ini perlu dikerjakan bersama dengan Kementerian Perindustrian. Dan yang terakhir, kebijakan kami akan mengatur agar kontraktor dan konsultan diberikan kebebasan untuk menggunakan software BIM yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Tidak ada software BIM yang secara spesifik diistimewakan.” tandas Adji.

Dari kegiatan sosialisasi ini, diharapkan rekan-rekan yang hadir dari UPT Dinas Bina Marga dan Bina KOnstruksi Provinsi Sumatera Utara mendapatkan informasi yang tergolong baru bagi mereka ini, serta ke depannya mereka bisa lebih siap dan sanggup melaksanakan BIM ketika kebijakan mengenai hal tersebut telah diterapkan. (gal)