Slide 1

Berita PUPR > Mengatasi Wilayah Terisolasi, Balitbang PUPR Hadirkan Teknologi JUDESA di Desa Siru NTT


Sabtu, 28 April 2018, Dilihat 338 kali

Teknologi Jembatan untuk Desa Asimetris atau dikenal sebagai “JUDESA”, merupakan bagian dari Pelaksanaan “NAWACITA” yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Teknologi JUDESA diharapkan mampu menjadi penghubung antar desa atau kawasan terpencil yang dipisahkan oleh kondisi alam seperti sungai, lereng, bukit, ataupun jurang.

JUDESA merupakan salah satu inovasi teknologi Balitbang PUPR yang dikembangkan oleh Puslitbang Jalan dan Jembatan Balitbang PUPR. Memiliki beberapa keunggulan yang membuatnya sangat cocok diterapkan di kawasan pedesaan, yaitu pelaksanaannya yang cepat, fleksibel dan ekonomis.
“Jembatan teknologi JUDESA yang menghubungkan Desa Siru dan Wae Wako merupakan replikasi perdana teknologi Balitbang PUPR pertama di luar Pulau Jawa yaitu di Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur dan pelaksanaannya dilakukan oleh Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi (Puslitbang KPT)” ujar Kepala Balitbang PUPR, Danis H. Sumadilaga saat peresmian JUDESA di Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Peresmian ditandai dengan penandatangan prasasti, gunting pita dan upacara adat di Desa Siru. Peresmian dihadiri oleh Bupati Manggarai Barat, Kepala Pusat Litbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi, Kepala Balai Litbang Penerapan Teknologi Jalan dan Jembatan, Kepala Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah III Provinsi NTT Balai Pelaksanaan Jalan Nasional X dan Tokoh Masyarakat Desa Siru dan Wae Wako.

Teknologi JUDESA ini diperuntukkan bagi pejalan kaki ataupun pesepeda motor dengan bentang panjang 62 meter lebar 1,8 meter dan mampu menahan beban 300 kg/m2. Jembatan ini bertipe Asimetris atau menggunakan satu pilon, dengan waktu pelaksanaan 120 hari kalender (termasuk pembuatan bangunan atas).

Penerapan JUDESA di Desa Siru dan Wae Wako ini berdasarkan beberapa pertimbangan teknis dan non teknis seperti: sulitnya aksesibilitas masyarakat yang selama ini hanya menggunakan perahu dan kesulitan warga untuk menyeberang saat musim penghujan yang sering kali dilanda banjir serta ancaman binatang buas (buaya) saat menyeberang.

Keberadaan JUDESA dengan bentang 62 meter di Kecamatan Lembor ini sangat dirasakan manfaatnya oleh penduduk Desa Siru dan Desa Wae Wako. Masyarakat Desa Wae Wako mengaku bersyukur dengan adanya Judesa dikarenakan perjalanan yang ditempuh menjadi lebih singkat dan aman. Hal ini membuktikan bahwa JUDESA mampu mempercepat akses menuju tempat pendidikan, sarana kesehatan dan lokasi kerja para petani. (nd)