Slide 1

Berita PUPR > Dukung Pengelolaan Lingkungan KSPN Danau Toba, Puslitbang KPT Serahkan Mesin Pencacah Plastik


Sabtu, 12 Mei 2018, Dilihat 156 kali

Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan dan Penerapan Teknologi (Puslitbang KPT) Balitbang PUPR melakukan serah terima kelola mesin pencacah limbah plastik kantong kresek kepada Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara pada Sabtu (12/5) bertempat di Komplek Kantor Bupati Humbang Hasundutan. Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pihak yang terlibat dalam pengelolaan lingkungan seperti Dinas Lingkungan Hidup dan kelompok masyarakat. Selain pemerintah daerah setempat, turut hadir pula Pemerintah Daerah Kota Medan yang akan menerima secara simbolis satu unit mesin pencacah plastik untuk kebutuhan yang sama.

Penyerahan mesin pencacah plastik dilakukan oleh Kepala Badan Litbang Kementerian PUPR yang diwakili oleh Kepala Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi Rezeki Peranginangin kepada Bupati Humbang Hasundutan Provinsi Sumatera Utara yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Humbang Hasundutan Tonny Sihombing. Dalam kesempatan yang sama, mesin pencacah plastik diserahkan kepada kelompok masyarakat penggiat lingkungan di Kabupaten Humbang Hasundutan dan Bank Sampah Induk Kota Medan yang diwakili oleh Devi Novita Lubis dari Artha Jaya. Rencananya mesin pencacah akan digunakan untuk memproduksi cacahan sampah plastik kresek sebagai bahan campuran aspal dalam rangka pengelolaan lingkungan di Kawasan Pariwisata Danau Toba.  

“Keberadaan mesin ini merupakan bentuk kesungguhan Kementerian PUPR dalam mendukung gerakan penyelamatan lingkungan untuk mengurangi jumlah limbah plastik, khususnya kantong plastik kresek melalui penerapan Teknologi Aspal Plastik sekaligus membuka lapangan pekerjaan untuk mengumpulkan dan mencacah kantong kresek bekas,” ungkap Kepala Puslitbang Kebijakan dan Penerepan Teknologi, Rezeki Peranginangin yang mewakili kepala Badan Litbang saat memberikan sambutan serah terima kelola mesin pencacah plastik.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jambeck (2015) menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara penghasil sampah plastik di laut terbesar ke-2 di dunia setelah China. Hal ini seharusnya membuat kita prihatin dan mulai mencari solusi yang dapat dilakukan. Pada pertemuan G-20 di Hamburg, Presiden Jokowi dalam pidatonya berkomitmen untuk mengurangi sampah plastik laut sebesar 70% hingga 2025.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR bahwa limbah plastik kresek jenis LDPE dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambah pada campuran beraspal yang secara langsung dapat mengurangi pencemaran lingkungan ditambah plastik jenis ini sudah tidak memiliki nilai ekonomi lagi atau tidak laku.

Selain manfaat terhadap lingkungan, manfaat teknis yang didapat adalah dapat meningkatkan stabilitas campuran sebesar 40% dan lebih tahan terhadap deformasi serta retak lelah dengan penambahan optimal 4-6% limbah plastik (terhadap kadar aspal) pada campuran beraspal panas. Perhitungan limbah plastik kresek ini digunakan dengan panjang 1 kilometer, lebar 7 meter, dan tebal 5 cm dapat menyerap 3-3,5 ton limbah plastik.

Pemanfaatan limbah plastik dalam campuran beraspal ini diharapkan bisa menjadi satu solusi pelestarian lingkungan hidup di Indonesia dan membuka pola pikir masyarakat untuk mencintai lingkungan. Adanya teknologi ini juga turut menjadi suatu gerakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa sampah plastik harus ditangani. Uji coba penggunaan limbah plastik pada campuran beraspal sudah mulai dilakukan pada tahun 2017, yaitu di Bali, Bekasi, Makassar, Solo, Pasuruan, dan Banten.

Kementerian PUPR melalui Ditjen Bina Marga siap menampung dan membeli plastik yang telah tercacah dan dalam kondisi bersih dengan harga ± Rp. 3.500,-/kg Hal ini mengingat limbah plastik yang akan digunakan dalam campuran aspal harus dalam bentuk cacahan. Untuk mendapatkan hasil cacahan yang sesuai dengan spesifikasi campuran aspal plastik, maka digunakan Mesin Pencacah Plastik. Penyebaran Mesin Pencacah ini dimulai penyerahannya oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan PUPR pada tanggal 28 April 2018 kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat di Labuan Bajo untuk mendukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, kemudian dilanjutkan KSPN Danau Toba, KSPN Borobudur, KSPN Bromo, KSPN Nusa Tenggara Barat, dan KSPN Tana Toraja berdasarkan surat instruksi Dirjen Bina Marga untuk penerapan aspal plastik di 6 KSPN tersebut.

“Pada pelaksanaan kegiatan penerapan Teknologi Aspal Plastik di Sipinsur Bakara oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional II Medan diperkirakan dapat menyerap sampah plastik kantong kresek sebesar 12 ton,” imbuh Rezeki.

“Kami menyampaikan rasa syukur dan terima kasih telah mendapat bantuan mesin pencacah plastik, adanya mesin pencacah plastik diproyeksikan hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk pembuatan aspal campuran plastik untuk pembangunan jalan lingkar Danau Toba, diharapkan permasalahan sampah plastik akan berkurang sesuai dengan program nasional presiden yang tertuang dalam Perpres No. 97 Tahun 2017, dan juga akan meningkatkan perekonomian masyarakat terutama penggiat lingkungan (kelompok masyarakat),” ungkap Bupati Humbang Hasundutan Dosmar Banjarnahor yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Humbang Hasundutan Tonny Sihombing.

Saat ini penanganan sampah di Kabupaten Humbang Hasundutan masih dengan paradigma lama yang hanya bersifat kumpul, angkut dan buang, belum terfokus pada pengolahan dan pembatasan timbulan sampah. Mesin Pencacah Plastik diharapkan dapat bermanfaat dan tepat guna bagi pengurangan sampah plastik di Kabupaten Humbang Hasundutan. Momen ini sekaligus menjadi awal perubahan paradigma pengelolaan sampah di Kabupaten Humbang Hasundutan.