Slide 1

Berita PUPR > Penerapan Teknologi Litbang Program Pengembangan Infrastruktur Sosial dan Ekonomi Wilayah (PISEW)


Kamis, 31 Mei 2018, Dilihat 78 kali

Pembangunan infrastuktur harus menyentuh segala lapisan masyarakat. Lebih lanjut lagi, Pemerintah juga kerap menyosialisasikan pembangunan padat karya kepada teman-teman di daerah, salah satunya melalui Program Pengembangan Infrastruktur Sosial dan Ekonomi Wilayah (PISEW) yang dikomandoi oleh Ditjen Cipta Karya. Sebagai gambaran, PISEW merupakan program yang dilaksanakan untuk mendukung kebijakan Pemerintah dalam meningkatkan dan mengembangkan infrastruktur yang mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan permukiman di kecamatan, serta meningkatkan kualitas permukiman perdesaan. Dengan mengusung pengembangan ekonomi lokal untuk pengembangan kawasan, program ini juga memiliki posisi strategis dalam mendukung RPJMN tahun 2015-2019.

Adapun beberapa kriteria-kriteria yang perlu dipenuhi antara lain: berorientasi pada pengembangan wilayah atau merupakan penghubung/konektivitas antar wilayah, memprioritaskan peningkatan/pengembangan komoditas unggulan dan diusulkan melalui kelompok masyarakat, penggunaan teknologi yang memprioritaskan pemberian kesempatan kerja kepada masyarakat setempat, mengutamakan penggunaan material setempat, tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, sosial, dan budaya, tidak tumpang tindih dengan kegiatan APBD, serta terintegrasi dengan sistem infrastruktur yang ada.

Balitbang, sebagai inovator teknologi tentu dapat memiliki kontribusi yang cukup vital dalam poin “penggunaan teknologi yang memprioritaskan pemberian kesempatan kerja kepada masyarakat setempat” di atas. Oleh sebab itu, melalui Puslitbang KPT, Balitbang menghadiri undangan Ditjen Cipta karya dalam acara Verifikasi DED dan RAB Tingkat Pusat Kegiatan PISEW Tahun Anggaran 2018 yang dihelat di Jakarta (30/5).

Pada acara tersebut, Puslitbang KPT diundang sebagai pembahas bersama dengan teman-teman dari Ditjen Bina Konstruksi. Perwakilan peneliti dari Puslitbang KPT yang hadir antara lain: Adji Krisbandono, Nanang Rianto dan Dica Erly (Bidang Kajian Kebijakan dan Kerja Sama), Irwan Kusdaryanto (Balai Litbang Penerapan Teknologi Sumber Daya Air), dan Arvian Zanuardi (Balai Litbang Penerapan Teknologi Jalan dan Jembatan).

Adapun teknologi-teknologi hasil litbang yang diperkenalkan pada acara tersebut antara lain:

  1.  Otta Seal/Jalan Volume Rendah Berbiaya Murah (Puslitbang Jalan dan Jembatan)
    Banyak digunakan sebagai metode pembangunan jalan pedesaan di Indonesia karena sangat padat karya dan sederhana. Di samping itu Otta Seal terbukti lebih ekonomis dan lebih tahan lama hingga 50%-60% lebih awet dibandingkan metode pembangunan jalan lain. Perawatan yang dibutuhkan pada teknologi ini juga relatif lebih mudah dan dalam pengerjaannya pun tidak membutuhkan tenaga kerja yang sangat terampil. Teknologi ini sangat cocok diterapkan untuk jalan dengan volume lalu lintas yang rendah, seperti jalan akses yang berkarakter perdesaan.
  2. Jembatan Integral Monolit (Puslitbang Jalan dan Jembatan)
    Merupakan jembatan yang dibuat tanpa adanya pergerakan antar bentang atau antara bentang dengan abutment. Teknologi ini untuk mendukung pembangunan jembatan yang memiliki bentang kurang dari 20 meter, yang di beberapa kasus masih memakai metode konvensional seperti girder balik dan tumpuan. Pada teknologi ini, permukaan jalan dibuat menerus dari timbunan oprit yang satu dengan timbunan oprit yang lainnya. Teknologi jembatan ini dimaksudkan untuk menghindari permasalahan perawatan yang sangat mahal yang disebabkan adanya penetrasi air/debu melalui pergerakan joint. Selain itu, teknologi ini juga dapat meningkatkan kenyamanan bagi pengguna jalan, serta mudah dilaksanakan di lapangan.
  3. Mandi Cuci Kakus Berbasis Daur Ulang (Puslitbang Perumahan dan Permukiman)
    MCK yang mengutamakan pengolahan air limbah domestik yang memenuhi kehandalan sistem, pengoperasian dan pemeliharaan yang mudah, menghasilkan energi, mendaur ulang air dan kebutuhan lahan disesuaikan dengan ketersediaan lahan.
  4. Saluran Irigasi Sederhana (Puslitbang Sumber Daya Air)
    Teknologi ini untuk membantu pelaksana pembangunan saluran irigasi sederhana bagi penduduk perdesaan dalam merencanakan melaksanakan pekerjaan konstruksi dan memperkirakan biaya secara sederhana. Saluran irigasi sederhana berfungsi sebagai saluran pembawa air irigasi untuk didistribusikan ke petak sawah. Saluran ini dapat terbuat dari tanah, pasangan batu, beton modular dengan luas areal yang diairi berkisar antara 10-50 ha, dengan panjang saluran berkisar antara 500 m sampai 2500 m. Teknologi ini cocok diterakpakan karena membutuhkan teknik sederhana yang umumnya dijumpai di perdesaan.

Acara Verifikasi DED dan RAB Tingkat Pusat Kegiatan PISEW Tahun Anggaran 2018 itu sendiri berlangsung selama 7 hari. Dalam kesempatan tersebut, dibahas paparan dari 30 SNVT yang tersebar di 30 Provinsi. Masing-masing SNVT mempresentasikan usulan kegiatannya dan kemudian diberikan masukan oleh Balitbang dan Ditjen Bina Konstruksi agar program berbasis padat karya ini bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Ke depannya, dukungan Pemerintah Daerah selaku pembina pembangunan di wilayahnya juga terus diharapkan. (dica)