Slide 1

Berita PUPR > Teknologi Konata Mencegah Banjir dengan Cara Mudah


Senin, 04 Juni 2018, Dilihat 119 kali

Dewasa ini, fenomena penurunan muka air tanah di Indonesia telah menjadi masalah serius di beberapa kota besar di dunia, seperti Tokyo, Shanghai, dan Bangkok. Kota-kota besar di Indonesia yang mengalami penurunan muka air tanah antara lain adalah Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Semarang.

Penurunan muka air tanah atau land subsidence merupakan peristiwa turunnya permukaan tanah akibat penyempitan rongga tanah, yang terdiri dari air dan udara. Penyempitan rongga tanah dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Menurut Whittaker dan Reddish, ada empat jenis penurunan muka air tanah yang dibedakan berdasarkan penyebabnya, antara lain :

  1. Penurunan muka air tanah alami (natural subsidence). Penurunan ini disebabkan oleh proses-proses geologi seperti aktivitas vulkanik dan tektonik, siklus geologi, adanya rongga di bawah permukaan tanah, dan sebagainya.
  2. Penurunan muka air tanah akibat pengambilan bahan cair dari dalam tanah. Penurunan ini disebabkan oleh pengambilan bahan cair, seperti air tanah dan minyak bumi.
  3. Penurunan muka air tanah akibat beban-beban berat. Penurunan ini disebabkan oleh struktur bangunan di atas tanah, sehingga tanah mengalami konsolidasi. Penurunan ini dinamakan dengan settlement.
  4. Penurunan muka air tanah akibat pengambilan bahan padat dari dalam tanah. Penurunan ini disebabkan oleh aktivitas pertambangan.

Sesuai arahan dan disposisi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono pada tanggal 3 Mei 2018, Pusat Litbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi hari ini (4/6) melakukan diskusi mengenai Teknologi Konservasi Air Tanah (Konata) bersama PT. Konata Alam Lestari serta perwakilan dari Ditjen Cipta Karya, Ditjen Sumber Daya Air, Puslitbang Sumber Daya Air, Puslitbang Perumahan dan Permukiman.

Dengan teknologi konata diharapkan Balitbang PUPR dan Ditjen Terkait dapat melakukan kerjasama dalam penerapan teknologi Konata, karena Konata memiliki keistimewaan antara lain: telah terbukti efektif bekerja semenjak tahun 1974, sangat efektif sebagai sistem konservasi air dan tanah, pembuatannya yang cepat dan murah, perawatannya mudah dan daya guna sangat lama.